(Baṣīrah, Basyīr, dan Bisyārah sebagai Jalan dari Kepekaan Batin menuju Followership)
Oleh : Fawaid Zaini
Ada pemimpin yang membuat orang takut ketika dipanggil. Ada pula pemimpin yang membuat orang senang ketika berjumpa. Perbedaannya kadang bukan pada jabatan, kecerdasan, atau kekuasaan yang dimiliki. Bahkan bisa jadi keduanya sama-sama tegas dan sama-sama memiliki target yang tinggi. Perbedaannya terletak pada satu hal yang sering luput kita bicarakan ketika membahas kepemimpinan: apa yang dirasakan orang lain ketika berada di dekat pemimpinnya.
Dalam sebuah organisasi, kita sering menjumpai suasana yang sangat berbeda. Ketika seorang pemimpin memasuki ruangan, sebagian orang mendadak diam. Percakapan berhenti. Orang mulai berhati-hati memilih kata. Bahkan kabar buruk sebisa mungkin ditahan agar tidak sampai ke meja pimpinan. Di tempat lain, kehadiran pemimpin justru menghasilkan suasana sebaliknya. Orang ingin bercerita, ingin menyampaikan gagasan, bahkan merasa perlu segera membawa kabar baik kepadanya. Ketika menghadapi masalah pun mereka tidak memilih bersembunyi, melainkan datang untuk mencari jalan keluar.
Mengapa bisa demikian?
Pertanyaan ini membawa kita pada cara yang agak berbeda dalam melihat kepemimpinan. Selama ini kepemimpinan banyak dibicarakan dari sisi gaya, perilaku, visi, karakter, pelayanan, transformasi, atau hubungan antara pemimpin dan pengikut. Authentic leadership, misalnya, menekankan kesadaran diri, transparansi relasional, pengolahan informasi secara seimbang, dan orientasi moral. Servant leadership menempatkan kebutuhan dan perkembangan orang lain sebagai perhatian penting. Transformational leadership menekankan kemampuan pemimpin menggerakkan orang melampaui kepentingan individual menuju tujuan yang lebih besar. Sementara psychological safety menjelaskan kondisi ketika orang merasa cukup aman untuk berbicara, mengambil risiko interpersonal, dan belajar tanpa takut dipermalukan. Semua pendekatan tersebut penting dan telah berkembang dalam tradisi penelitian kepemimpinan yang kuat.
Namun, justru karena banyaknya model tersebut, pertanyaan lain perlu diajukan: adakah cara yang lebih sederhana untuk menjelaskan bagaimana kualitas batin seorang pemimpin akhirnya menjadi pengalaman psikologis pengikut?
Dari pertanyaan itulah saya mengusulkan sebuah model konseptual yang saya sebut Baṣīrah–Basyīr–Bisyārah Leadership Model.
Gagasannya berangkat dari tiga kata kunci. Baṣīrah adalah kapasitas internal pemimpin untuk melihat dan memahami realitas dengan ilmu, wawasan, kesadaran, kejernihan moral, kemampuan membedakan yang benar dan salah, serta hikmah. Basyīr merupakan ekspresi eksternal dari kapasitas tersebut melalui komunikasi yang benar, menenangkan, memberi harapan, mendorong, membangun visi, sekaligus tetap konstruktif dalam menyampaikan kebenaran. Adapun Bisyārah menunjuk pada pengalaman positif yang kemudian dirasakan pengikut: tenang, optimistis, aman, percaya, dan merasa terhubung.
Dengan demikian, kepemimpinan dalam model ini tidak dimulai dari mulut pemimpin, apalagi dari perintahnya. Kepemimpinan dimulai dari cara pemimpin melihat.
Seorang kepala sekolah, misalnya, mendapati seorang guru terlambat menyelesaikan tugas. Pemimpin dapat langsung menyimpulkan bahwa guru tersebut tidak disiplin. Tetapi pemimpin yang memiliki Baṣīrah tidak berhenti pada peristiwa yang tampak. Ia bertanya lebih jauh: apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah guru itu tidak mampu? Apakah beban kerjanya terlalu berat? Apakah instruksinya tidak jelas? Ataukah memang terdapat persoalan tanggung jawab yang harus diperbaiki?
Perbedaannya mungkin hanya terletak pada beberapa menit sebelum mengambil keputusan. Namun dari situlah kualitas kepemimpinan dapat ditentukan. Pemimpin yang baik bukan hanya cepat melihat masalah, tetapi mampu melihat masalah secara benar.
Karena itu, Baṣīrah dapat dipandang sebagai semacam “mata batin” kepemimpinan. Ia membuat pemimpin tidak mudah dikuasai oleh prasangka, emosi, kepentingan sesaat, atau penilaian yang tergesa-gesa. Dalam bahasa sederhana: sebelum mengatur orang lain, pemimpin harus belajar membaca kenyataan dengan jernih.
Tetapi kejernihan di dalam diri belum cukup. Ia harus hadir dalam perilaku. Di sinilah Basyīr menjadi penting.
Pemimpin sering kali harus menyampaikan kabar yang tidak menyenangkan. Target tidak tercapai, anggaran berkurang, program gagal, atau seseorang melakukan kesalahan. Kepemimpinan bukan pekerjaan untuk terus-menerus membuat orang senang. Pemimpin tetap harus mengatakan kebenaran. Tetapi kebenaran dapat disampaikan dengan dua cara: membuat orang kehilangan harapan atau membuat orang memiliki keberanian untuk memperbaiki keadaan.
Basyīr berada pada titik kedua. Ia bukan seni mengatakan sesuatu yang manis. Ia adalah kemampuan mengatakan kebenaran tanpa mematikan harapan.
Kalimat “Kita gagal dan ini kesalahan kalian” akan menghasilkan pengalaman yang berbeda dengan kalimat “Kita belum berhasil. Mari kita lihat bersama apa yang salah dan apa yang harus kita perbaiki.” Persoalannya sama. Kebenarannya sama. Tetapi pengalaman psikologis yang ditimbulkan sangat berbeda.
Di sinilah Bisyārah menjadi penting. Dalam model ini, keberhasilan komunikasi pemimpin tidak hanya diukur dari apakah pesan telah disampaikan, tetapi dari pengalaman apa yang tumbuh pada diri pengikut setelah pesan itu diterima. Apakah mereka menjadi lebih tenang atau semakin cemas? Lebih optimistis atau kehilangan harapan? Merasa aman atau merasa terancam? Merasa dekat dengan pemimpin atau justru menjaga jarak?
Pertanyaan tersebut memperluas cara kita memahami kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya menghasilkan keputusan. Ia menghasilkan pengalaman.
Seorang pemimpin mungkin tidak pernah menyadari bahwa cara ia berbicara telah membuat bawahannya takut menyampaikan masalah. Sebaliknya, pemimpin lain mungkin tidak sadar bahwa kehadirannya telah menciptakan keberanian psikologis yang membuat orang berani mencoba, mengakui kesalahan, dan menyampaikan kabar buruk sekalipun.
Di sinilah gagasan Bisyārah memiliki posisi yang menurut saya penting. Psychological safety, misalnya, telah menjelaskan secara kuat pentingnya kondisi ketika seseorang merasa aman mengambil risiko interpersonal. Tetapi Bisyārah dalam model ini ingin melihat persoalan itu dari rantai kepemimpinan yang lebih luas: pengalaman aman dan optimistis tersebut bukan berdiri sendiri, melainkan dipandang sebagai konsekuensi dari bagaimana pemimpin melihat realitas dan kemudian menghadirkannya melalui perilaku serta komunikasinya.
Begitu pula dengan authentic leadership. Ia menaruh perhatian besar pada kesadaran diri, transparansi, dan moralitas pemimpin. Namun Baṣīrah tidak berhenti pada pertanyaan apakah pemimpin mengenal dirinya sendiri. Ia membawa perhatian pada pertanyaan yang lebih luas: apakah pemimpin mampu membaca realitas secara jernih sebelum merespons realitas tersebut?
Servant leadership juga memiliki kedekatan karena sama-sama memberi tempat penting bagi manusia yang dipimpin. Namun titik tekan model Baṣīrah–Basyīr–Bisyārah bukan terutama pada identitas pemimpin sebagai pelayan. Fokusnya adalah proses transformasi dari kualitas internal pemimpin menjadi pengalaman psikologis pengikut. Bahkan penelitian tentang berbagai model kepemimpinan menunjukkan adanya tumpang tindih yang cukup besar di antara pendekatan-pendekatan tersebut, sehingga model baru harus memiliki batas konseptual yang jelas agar tidak sekadar mengganti nama atas gagasan lama.
Karena itu, kebaruan yang ingin ditawarkan bukanlah mengatakan bahwa model-model kepemimpinan sebelumnya salah. Justru sebaliknya, Baṣīrah–Basyīr–Bisyārah dapat dibaca sebagai upaya merangkai beberapa pertanyaan yang selama ini sering dibahas secara terpisah: bagaimana pemimpin melihat, bagaimana ia bertindak dan berkomunikasi, apa yang kemudian dirasakan pengikut, dan mengapa akhirnya orang bersedia mengikuti.
Rangkaian itu bermuara pada followership. Dokumen model ini menempatkan trust, commitment, loyalty, dan willingness to follow sebagai konsekuensi dari pengalaman positif pengikut.
Ini penting. Sebab seseorang dapat mematuhi pemimpin tanpa benar-benar mengikutinya. Ia bisa bekerja karena takut. Ia bisa menjalankan perintah karena jabatan. Ia bisa hadir karena kewajiban. Tetapi semua itu berbeda dengan kondisi ketika seseorang mengikuti karena percaya.
Kepemimpinan yang matang akhirnya bukan sekadar kemampuan membuat orang berkata, “Saya harus mengikuti dia.” Kepemimpinan yang lebih dalam membuat orang berkata, “Saya percaya kepadanya dan saya ingin berjalan bersamanya.”
Di titik inilah model Baṣīrah–Basyīr–Bisyārah menemukan relevansinya. Baṣīrah membuat pemimpin mampu melihat dengan jernih. Basyīr membuat kejernihan itu hadir dalam kata dan tindakan yang membangun. Bisyārah menggambarkan pengalaman yang tumbuh pada diri pengikut. Dan pengalaman tersebut menjadi jembatan menuju kepercayaan, komitmen, loyalitas, serta kesediaan mengikuti.
Barangkali karena itu, ukuran seorang pemimpin tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak program yang berhasil ia selesaikan, berapa banyak target yang tercapai, atau seberapa kuat kewenangan yang dimilikinya. Ada ukuran lain yang jauh lebih manusiawi: menjadi seperti apa orang-orang setelah berada di bawah kepemimpinannya?
Apakah mereka menjadi lebih berani? Lebih tenang? Lebih optimistis? Lebih terbuka? Lebih bertanggung jawab?
Atau justru menjadi lebih takut, lebih tertutup, dan hanya bekerja ketika pemimpinnya melihat?
Pada akhirnya, pemimpin yang paling kuat mungkin bukan pemimpin yang membuat orang takut kehilangan dirinya. Ia adalah pemimpin yang membuat orang senang ketika dirinya hadir, percaya ketika dirinya berbicara, dan tetap berani berjalan ketika dirinya tidak berada di tempat. Mungkin itulah kepemimpinan yang sesungguhnya: bukan sekadar membuat orang mengikuti, tetapi membuat orang dengan kesadaran dan kegembiraan memilih untuk mengikuti.
*tulisan ini lahir dari ketertarikan dan kegelisahan batin dari penulis pasca mendengarkan ceramah agama yang disampaikan oleh Dr. KH. Abuya Buysro Karim, M.Si, pada saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW.
**Dosen Institut Kariman Wirayudha Sumenep sekaligus Ketua LAKPESDAM MWCNU Gapura
