ASN BELAJAR DAN SPIRIT “HIJRAH” BULAN MUHARRAM: MENGHIDUPKAN BASTHUL WAJHI

Ada pemahaman menarik dan saya pikir cukup sederhana—tapi sangat bermakna—yang disampaikan oleh Dr. Akh. Jazuli, SH, M.Si., pemateri dalam Webinar ASN Belajar Seri 19, BPSDM Provinsi Jawa Timur, Kamis, 11 Juni 2026. Tema yang diusung adalah “Spirit Muharam 1448 H: ASN Hijrah Menuju Birokrasi Amanah.”

Satu hal yang ditekankan oleh beliau, khususnya kepada para ASN yang bergelut dalam pelayanan publik, yakni membudayakan basthul wajhi (muka yang selalu sumringah/berseri-seri). Menurut beliau, membudayakan basthul wajhi akan memberi manfaat karena akan bernilai sedekah, membuka hati dan menghilangkan kesedihan.

Lebih lanjut beliau menegaskan, bahwa dengan menjadikan basthul wajhi sebagai identitas budaya kerja, ASN tidak hanya berhasil mengimplementasikan core values BerAKHLAK (khususnya berorientasi pelayanan), tetapi juga berhasil membumikan nilai-nilai profetik Islam ke dalam ruang-ruang birokrasi. Pelayanan yang diberikan dengan wajah berseri dan hati yang berhijrah akan melahirkan kepercayaan publik yang kokoh sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Dalam perspektif ini, ketika dipahami lebih jauh, membudayakan basthul wajhi ini sebenarnya tidak hanya mengikat satu komunitas tertentu (seperti ASN) saja. Karena basthul wajhi ini adalah sifat dari Baginda Nabi, maka seluruh umatnya pun sejatinya harus meneladaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tahu bahwa kehidupan hari ini yang menuntut serba instan, interaksi antarmanusia kerap kehilangan jiwanya. Hubungan sosial, bahkan dalam ranah pelayanan publik dan profesional, sering kali terjebak dalam batas-batas prosedural yang mekanis. Di sinilah relevansi untuk menengok kembali warisan akhlak profetik menjadi krusial. Salah satu sifat mendasar namun transformatif yang melekat pada diri Rasulullah SAW adalah basthul wajhi—wajah yang berseri-seri, terbuka, dan menenteramkan. Menjadikan basthul wajhi sebagai budaya kolektif bukan sekadar bentuk romantisme sejarah, melainkan sebuah kebutuhan sosiologis untuk mengembalikan kemanusiaan yang mulai mengering

Secara epistemologis, basthul wajhi mengekspresikan kelapangan dada yang mengalir hingga ke paras wajah. Ia bukan sekadar senyum artifisial yang dipelajari dalam kelas-kelas estetika atau SOP korporat demi kepuasan pelanggan. Bagi Nabi Muhammad SAW, wajah yang berseri adalah jembatan maknawi yang meruntuhkan sekat-sekat kecemasan, status sosial, dan ketakutan pada sesama manusia. Dalam sebuah hadis yang sangat populer, beliau menegaskan bahwa tersenyum di hadapan sesama adalah sedekah. Penegasan ini menggeser paradigma bahwa berbagi kebaikan tidak selalu berkelindan dengan materi. Dengan wajah yang cerah, seseorang sedang menyedekahkan rasa aman, kenyamanan, dan pengakuan atas eksistensi orang lain di hadapannya.

Nabi SAW adalah prototipe pemimpin dan pribadi yang paling tulus dalam mengimplementasikan sifat ini. Catatan sejarah menunjukkan bagaimana para sahabat merasa menjadi orang yang paling dicintai oleh Nabi hanya karena tatapan mata dan wajah beliau yang selalu menyambut dengan penuh kehangatan. Tidak ada gurat keangkuhan, tidak ada jarak tirani birokrasi, dan tidak ada kelelahan ego yang ditampakkan di depan umatnya. Bahkan dalam situasi penuh tekanan, konflik, maupun saat menghadapi kasarnya sikap kaum badui, Rasulullah SAW tetap mengedepankan kelapangan wajah. Sifat ini menjadi magnet spiritual yang memikat hati, menjinakkan permusuhan, dan menyatukan hati yang berserak.

Ketika ditarik ke dalam konteks kontemporer—baik dalam lingkungan birokrasi pemerintahan, institusi pendidikan, maupun ruang publik kemasyarakatan—basthul wajhi memegang peran sebagai katalisator harmoni. Seorang aparatur sipil, guru, atau pemimpin yang membudayakan basthul wajhi akan mengubah atmosfer kerja yang semula tegang dan intimidatif menjadi dialogis dan solutif. Wajah yang berseri menandakan kesiapan untuk mendengarkan, merangkul keluhan, dan melayani dengan hati. Ia meruntuhkan dinding arogansi kekuasaan dan menggantinya dengan jembatan empati. Saat masyarakat datang dengan tumpukan persoalan dan kepanikan, keteduhan wajah seorang pelayan publik adalah langkah pertama penyelesaian masalah sebelum regulasi teknis dijalankan.

Namun, mengadopsi basthul wajhi sebagai sifat yang mendarah daging tentu membutuhkan proses “hijrah” batin yang konsisten. Wajah yang berseri tidak akan lahir dari hati yang sempit, penuh dendam, atau dilingkupi keserakahan. Ia adalah buah dari orkestrasi hati yang damai (qolbun salim) dan keikhlasan yang mendalam dalam memandang setiap tugas sebagai bagian dari pengabdian kepada Sang Pencipta. Ketika seseorang menyadari bahwa setiap pertemuannya dengan manusia lain adalah takdir yang membawa misi kebaikan, maka wajah yang ramah akan memancar secara organik tanpa dipaksa. Maka, menghidupkan basthul wajhi adalah upaya nyata untuk membumikan sifat kenabian di bumi pertiwi ini. Menjadikannya sebagai budaya kerja dan napas kehidupan sehari-hari akan mengubah wajah sosial kita menjadi lebih humanis. Melalui seulas senyum yang tulus dan wajah yang lapang, kita sedang melanjutkan misi profetik: menyebarkan kedamaian, merajut persaudaraan, dan memastikan bahwa tidak ada satu pun manusia yang merasa terasing di tengah sesamanya.

Oleh: H. Abd. Kadir (A’wan Syuriah MWCNU Gapura)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *