“BHERKAT” MAKIN BESAR, KEAKRABAN MAKIN KECIL

Membaca perubahan tradisi Maulid masyarakat Madura di tengah budaya serba praktis

Oleh : Fawaid Zaini (Ketua Lakpesdam MWCNU Gapura)

Ada yang bergeser dalam cara sebagian masyarakat Madura merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW, dan pergeserannya begitu halus sampai-sampai jarang ada yang menganggapnya penting untuk dibicarakan. Dulu, orang yang datang menghadiri Maulid biasanya pulang membawa bherkat: nasi lengkap dengan lauk-pauk, dibungkus plastik seadanya. Sekarang, di banyak tempat, bentuknya sudah lain. Jamaah pulang membawa beras, minyak goreng, satu kardus mi instan, kadang kipas angin, kadang amplop berisi uang dengan nominal yang tidak kecil, semua ditumpuk jadi satu.

Dari segi manfaat, sulit mencari yang salah dari perubahan ini. Beras bisa dimasak kapan saja, minyak dipakai untuk kebutuhan dapur, mi instan tahan lama di rak, kipas angin awet dipakai bertahun-tahun, dan uang jelas bisa dibelikan apa saja. Niat tuan rumah pun baik: berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang datang. Jadi persoalannya bukan pada boleh-tidaknya bentuk pemberian itu. Yang lebih layak direnungkan justru pertanyaan yang lebih diam-diam: kalau bentuknya berubah, apakah makna di baliknya ikut berubah juga?

Pertanyaan itu jadi lebih menarik lagi kalau kita perhatikan cara orang menjamu tamu belakangan ini. Dulu, kopi dalam cangkir hampir selalu ada di setiap Maulid. Jamaah duduk berlama-lama, menyeruput kopi, merokok, mengobrol dengan siapa saja yang kebetulan duduk di sebelahnya. Obrolan itu jarang soal Maulid. Kadang soal keluarga, soal sawah yang belum digarap, anak yang mau masuk sekolah, harga cabai yang naik, atau gosip kampung yang itu-itu saja tapi tetap seru dibahas. Tidak ada agenda apa-apa di situ, semuanya mengalir begitu saja—dan justru dari obrolan yang kelihatannya remeh itulah hubungan antartetangga terjaga.

Kebiasaan itu pun perlahan berubah. Kopi cangkir mulai digantikan teh kemasan, minuman kaleng, larutan penyegar, macam-macam minuman instan yang tinggal sobek plastiknya. Dari sisi pelayanan, cara ini memang jauh lebih ringkas. Tuan rumah tidak perlu menyeduh kopi satu-satu, tidak perlu menyiapkan puluhan cangkir, tidak perlu pusing soal cucian piring setelah acara bubar. Tamu pun bisa langsung membawa pulang minumannya. Semua serba cepat. Tapi di balik kepraktisan itu ada satu hal yang jarang kita tanyakan: jangan-jangan yang hilang bukan cuma kopi dalam cangkirnya, melainkan alasan untuk duduk berlama-lama itu sendiri.

Sebab dalam kebiasaan orang Madura, kopi sebenarnya bukan sekadar minuman. Ia semacam alasan sosial supaya orang mau duduk lebih lama. Secangkir kopi memberi ruang bagi dua orang yang jarang bertemu untuk saling menyapa, dari sapaan itu muncul obrolan, dari obrolan muncul kabar tentang keluarga masing-masing, dan dari situlah keakraban tumbuh pelan-pelan. Maka ketika kopi digantikan minuman kemasan yang bisa langsung dibawa pulang, yang berubah bukan cuma jenis minumannya—kebiasaan sosial yang menempel padanya ikut terkikis.

Fenomena semacam ini sebenarnya bisa dijelaskan lewat teori konstruksi sosial yang pernah diajukan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann. Menurut mereka, realitas sosial tidak datang dalam bentuk yang sudah jadi dan baku. Realitas dibentuk lewat tindakan manusia yang diulang-ulang, lama-kelamaan menjadi kebiasaan, kemudian melembaga, dan akhirnya diterima begitu saja sebagai sesuatu yang wajar. Artinya, sesuatu yang tadinya cuma pilihan bisa berubah jadi kebiasaan kalau terus dilakukan bersama-sama. Sampai titik tertentu, orang bahkan tidak lagi bertanya kenapa hal itu dilakukan—ia sudah dianggap bagian dari hidup sehari-hari saja.

Kalau kerangka ini dipakai untuk membaca perubahan tradisi Maulid, maka pergeseran bentuk bherkat dan cara menjamu tamu sebenarnya sedang menunjukkan sesuatu yang lebih besar: proses terbentuknya makna baru. Dulu, membawa pulang nasi berlauk sudah dianggap wajar dan cukup. Nilainya bukan pada mahal-murahnya makanan, tapi pada tindakan berbaginya—tuan rumah menyediakan, tamu menerima, hubungan keduanya jadi lebih akrab. Tapi begitu pemberian barang bernilai ekonomi makin sering terjadi, pelan-pelan orang bisa membangun pemahaman baru bahwa bherkat yang bagus adalah bherkat yang banyak dan mahal.

Di titik inilah perubahan bentuk mulai berpotensi bergeser jadi perubahan makna. Sesuatu yang tadinya simbol berbagi bisa pelan-pelan dibaca sebagai simbol kemurahan hati, kemampuan ekonomi, bahkan ukuran sukses-tidaknya sebuah hajatan. Maulid yang dulu dianggap berhasil kalau bisa mengumpulkan banyak orang dan mempererat silaturahmi, sekarang berisiko diukur dari apa yang bisa dibawa pulang jamaah. Makin besar pemberiannya, makin meriah kesan acaranya; makin mahal barangnya, makin dalam kesan yang tertinggal. Kalau kecenderungan ini terus jalan, masyarakat bukan cuma mengubah bentuk bherkat, tapi diam-diam sedang menyusun standar baru tentang bagaimana seharusnya sebuah Maulid diselenggarakan.

Hal serupa bisa terjadi pada cara menjamu tamu. Minuman kemasan memang lebih praktis dibanding kopi cangkir. Tapi kalau praktik ini terus berulang, orang bisa terbiasa dengan pola baru: datang, terima minuman, ikut acara sebentar, ambil bherkat, lalu pulang. Pertemuan yang dulu menyisakan ruang untuk mengobrol santai jadi makin singkat. Bukan berarti ada yang sengaja menghilangkan keakraban, dan bukan pula ada yang berniat merusak tradisi. Semuanya terjadi pelan-pelan, lewat pilihan-pilihan kecil yang dianggap lebih praktis dan pas dengan kebutuhan zaman sekarang.

Begitulah biasanya perubahan sosial bekerja—jarang datang dalam bentuk besar yang bikin kaget. Kadang ia muncul lewat hal sekecil cangkir kopi yang tidak lagi disuguhkan, sebungkus nasi yang berubah jadi sekantong beras, atau percakapan yang tidak lagi terjadi karena semua orang buru-buru pulang. Perubahan-perubahan kecil ini, kalau diulang terus-menerus, jadi kebiasaan. Dan begitu kebiasaan itu diterima bersama, ia berubah jadi realitas sosial yang baru.Meski begitu, perubahan ini tidak perlu dilihat sebagai sesuatu yang buruk seluruhnya. Tradisi memang tidak mungkin dibekukan begitu saja. Masyarakat berubah, kebutuhan berubah, kondisi ekonomi berubah, cara orang berinteraksi juga ikut berubah. Tidak ada gunanya memaksa orang kembali ke bentuk lama. Memberi beras, minyak, mi instan, kipas angin, atau uang tetap merupakan bentuk berbagi yang manfaatnya nyata. Minuman kemasan juga tidak bisa dibilang salah hanya karena berbeda dari kebiasaan sebelumnya.Yang perlu dijaga adalah jangan sampai perubahan bentuk ini membuat kita lupa pada makna yang dulu menjadi ruh tradisi tersebut. Nasi boleh diganti beras, tapi budaya berbagi jangan sampai ikut hilang. Kopi boleh diganti minuman kemasan, tapi kebiasaan duduk bersama jangan sampai ikut lenyap begitu saja.

Sebab kekuatan sebuah tradisi sebenarnya bukan terletak pada benda-benda yang diwariskan turun-temurun, melainkan pada makna yang hidup di baliknya. Nasi dalam bherkat bukan sekadar nasi—ia simbol berbagi. Kopi bukan sekadar kopi—ia ruang perjumpaan. Dan duduk bersama bukan sekadar membuang waktu, melainkan cara sederhana masyarakat merawat hubungan sosial mereka.Karena itu, di tengah perubahan bentuk perayaan Maulid ini, barangkali ada satu pertanyaan yang layak kita simpan bersama: setelah semua orang membawa pulang bherkat yang lebih bernilai, apakah keakraban yang mereka bawa juga sama besarnya? Ini bukan pertanyaan untuk menyalahkan perubahan, melainkan pengingat bahwa kemajuan dalam bentuk tidak selalu berarti kemajuan dalam makna.

Jangan sampai suatu hari kita pulang dari Maulid membawa beras, minyak, mi instan, kipas angin, dan sejumlah uang, tapi tidak membawa satu pun percakapan yang membuat kita merasa lebih dekat dengan tetangga sendiri.Sebab barangkali, yang paling berharga dari sebuah Maulid bukan apa yang kita bawa pulang, melainkan siapa yang kita temui, dengan siapa kita mengobrol, dan hubungan mana yang jadi lebih dekat setelah kita pulang. Tradisi boleh berubah mengikuti zaman, tapi jangan sampai makna sosial yang menghidupinya ikut hilang. Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah tradisi bertahan bukan kemewahan pemberiannya, melainkan kemampuan masyarakat untuk terus menemukan makna baru di dalamnya.

Dan barangkali, yang perlu kita jaga dari Maulid bukan sekadar bherkat-nya, bukan pula secangkir kopinya, tapi sesuatu yang jauh lebih sederhana dan justru makin mahal harganya di kehidupan modern ini: alasan untuk duduk bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *