KH Abdul Wasid Apresiasi Sinergi Pagar NUSA, Banser, dan CBP di Harlah NU Gapura

KH Abdul Wasid, M.Pd.I, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Sumenep, mengapresiasi kuatnya sinergi Pagar NUSA, Banser, dan CBP-IPNU dalam peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama (versi Masehi) yang digelar di Pendopo Kecamatan Gapura, Malam Kamis (28/1/2026).

Dalam refleksi yang disampaikannya, KH Abdul Wasid mengaku merasakan suasana kebersamaan yang luar biasa karena dapat membersamai kader-kader NU dari berbagai elemen yang hadir dalam satu barisan khidmah.

“Malam ini saya merasa luar biasa, karena bisa membersamai orang-orang yang terlampau luar biasa. Ini bukan lagi soal peran masing-masing, tetapi sudah menjadi satu barisan yang utuh,” ungkapnya.

Ia menyebut bersatunya Pagar NUSA, Banser, dan CBP-IPNU sebagai kekuatan besar Nahdlatul Ulama dalam menjaga ghirah dan keberlanjutan khidmah organisasi.

“Kalau boleh saya sebut, ini adalah tiga marga NU—Pagar NUSA, Banser, dan CBP—tiga barisan Nahdlatul Ulama yang bersatu padu dalam Harlah NU,” tegas KH Abdul Wasid.

Menurutnya, pemilihan Pendopo Kecamatan Gapura sebagai lokasi kegiatan memiliki makna strategis karena menunjukkan sinergi NU yang telah melampaui batas internal organisasi dan masuk ke ruang kolaborasi lintas teritorial.

“Ketika kegiatan NU dilaksanakan di kantor kecamatan, maka sinergi itu sudah masuk lintas wilayah. Jika ini dilakukan di setiap kecamatan, akan lahir resonansi ghirah yang tidak akan pernah putus,” jelasnya.

KH Abdul Wasid juga mengapresiasi kehadiran lengkap unsur pemerintah dan lembaga terkait yang hadir secara langsung tanpa diwakilkan. Hal tersebut, menurutnya, menjadi indikator kuatnya kebersamaan dalam menjaga harmoni sosial dan keagamaan di tingkat kecamatan.

Lebih lanjut, ia menilai konsep kegiatan yang memadukan shalawatan, istighasah, refleksi keagamaan, serta penampilan Pagar NUSA mampu membangkitkan suasana religius sekaligus semangat kebersamaan jamaah.

“Ghirah yang digemakan malam ini tidak berhenti di sini, tetapi akan dibawa pulang dan terus hidup dalam kerinduan akan kegiatan-kegiatan NU berikutnya,” pungkasnya.

Refleksi KH Abdul Wasid tersebut menjadi peneguhan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama terletak pada sinergi, khidmah, dan kemampuan merangkul seluruh elemen dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang mulia.

Pewarta: Moh. Rusdi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *